Posts

Kepercayaan asli (kuno) suku Batak

Sebelum masuknya pengaruh agama Hindu, Islam, dan Kristen ke tanah Batak, orang Batak pada mulanya belum mengenal nama dan istilah ‘dewa-dewa’. Kepercayaan orang Batak dahulu (kuno) adalah kepercayaan kepada arwah leluhur serta kepercayaan kepada benda-benda mati. Benda-benda mati dipercayai memiliki tondi (roh) misalnya: gunung, pohon, batu, dll yang kalau dianggap keramat dijadikan tempat yang sakral (tempat sembahan). Orang Batak percaya kepada arwah leluhur yang dapat menyebabkan beberapa penyakit atau malapetaka kepada manusia. Penghormatan dan penyembahan dilakukan kepada arwah leluhur akan mendatangkan keselamatan, kesejahteraan bagi orang tersebut maupun pada keturunan. Kuasa-kuasa inilah yang paling ditakuti dalam kehidupan orang Batak di dunia ini dan yang sangat dekat sekali dengan aktifitas manusia. Sebelum orang Batak mengenal tokoh dewa-dewa orang India dan istilah ‘Debata’, sombaon yang paling besar orang Batak (kuno) disebut ‘ Ompu Na Bolon ’ (Kakek/Nenek Yan...

Perkawinan yang dilarang dalam adat Batak Toba

Perkawinan bagi masyarakat Batak khususnya orang Toba adalah hal yang wajib untuk  dilaksanakan, dengan menjalankan sejumlah ritual perkawinan adat Batak. Meski memiliki  keunikan dan ragam keistimewaan yang terkandung dalam acara tersebut, upacara perkawinan adat Batak Toba juga terkenal sangat “merepotkan” jika kita bandingkan dengan upacara  perkawinan di daerah lainnya di Indonesia. Dalam perkawaninan adat Batak Toba juga ada aturan-aturan tertentu yang harus ditaati, dan hukumannya sangat tegas yang dianut oleh orang Batak sejak dulu kala. Dibeberapa daerah dan aturan yang berlaku yang dilaksankan oleh penatua masing-masing daerah berbeda-beda, ada yang dibakar hidup-hidup, dipasung, dan buang atau diusi dari kampung serta dicoret dari tatanan silsilah keluarga. Meskipun era saat ini beberapa aturan yang diberlakukan sejak dahulu kala, sebagian orang Batak kini sudah ada melanggarnya. Berikut ini ada 5 Larangan dalam Perkawinan Adat Batak Toba :  1. Namarp...

Ulaon Sadari Dalam Adat Batak di Jakarta

Image
PELAKSANAAN upacara adat di tengah-tengah masyarakat Batak di wilayah, Jakarta, Borgor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) dalam dua dekade ini atau sejak 1980-an, para orang tua telah memikirkan berbagai  penyerderhanaan. Hal ini sebagai jawaban nyata atas berbagai keluhan mengenai waktu yang terlalu banyak tersita dalam pelaksanaan upacara adat, baik itu perkawinan maupun upacara adat orang tua meninggal. Yang timbul dalam pemikiran adalah usaha untuk mengurangi hari-hari yang dibutuhkan dalam proses pelaksanaan upacara adat. Dalam proses acara perkawinan ada Marhata Sinamot dan Pesta Unjuk yang dahulu kala harus dilaksanakan pada hari-hari yang terpisah. Demikian halnya dengan acara adat bagi orang tua yang meninggal yang diesebut Mangarapot (rapat) dan Partutanona atau Partuatna (penguburan). Mangarapot adalah ulaon di jabu (upacara di rumah), sedangkan Partutanona adalah ulaon di alaman (upacara di depan rumah) masing-masing diselenggarakan pada dua hari yang terpi...

Sejarah Batak

Image
Dalam kunjungannya pada tahun 1292,  Marco Polo  melaporkan bahwa masyarakat Batak sebagai orang-orang "liar" dan tidak pernah terpengaruh oleh agama-agama dari luar. Meskipun  Ibn Battuta , mengunjungi Sumatera Utara pada tahun 1345 dan mengislamkan  Sultan Al-Malik Al-Dhahir , masyarakat Batak tidak pernah mengenal Islam sebelum disebarkan oleh pedagang Minangkabau. Bersamaan dengan usaha dagangnya, banyak pedagang Minangkabau yang melakukan kawin-mawin dengan perempuan Batak. Hal ini secara perlahan telah meningkatakan pemeluk Islam di tengah-tengah masyarakat Batak. [8]  Pada masa  Perang Paderi  di awal abad ke-19, pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran atas masyarakat Mandailing dan Angkola. Namun penyerangan Paderi atas wilayah Toba, tidak dapat mengislamkan masyarakat tersebut, yang pada akhirnya mereka menganut agama  Kristen Protestan  dan  Kristen Katolik . [9]   Kerajaan Aceh...